Aplikasi AHP pada Penetapan Komoditi Ternak Prioritas di Kabupaten Majene (Contoh Kasus)
PENGANTAR
Pembahasan kali ini akan secara langsung pada prosedur analisis AHP,
untuk prosedur analisis secara manual, sehingga untuk lebih memahami
prinsip-prinsi AHP dianjurkan untuk membaca artikel Pengantar AHP.
Saya tetap menganggap penting untuk tetap mempelajari bagaimana
prosedur analisis manual walaupun saat ini sudah terdapat banyak tools
yang dikembangkan untuk membantu proses analisis data AHP, makanya pada
contoh soal ini hanya digunakan contoh yang relatif sederhana. Untuk
kasus-kasus yang sudah kompleks dan multi hierarki (lebih 3) sebaiknya
anda menggunakan software seperti CD+, Expert Choice, dll.
Pada contoh penggunaan AHP kalli ini, akan kita lakukan analisis
keputusan dalam menentukan komoditi ternak yang paling cocok
dikembangkan di Kabupaten Majene. Dalam prosedur pembobotannya secara
langsung dilakukan berdasarkan data-data stattistik yang mendukung
(bukan menggunakan pendapat pakar). Sehingga pada contoh ini lebih
kepada sebagai contoh analisisnya, tapi kalau ada yang mau penelitian
terkait kasus yang dikaji dalam contoh ini tentu akan sangat bermafaat
bagi Kabupaten Majene. Oke, kita langsung ke tahapan analisis AHP.
DEKOMPOSISI MASALAH
Tujuan/Goal (Hierarki I) : Komoditi Ternak yang akan dikembangkanKriteria (Hierarki II) :
1.Daya dukung lahan/Kebutuhan Lahan (DDL)
2.Nilai Ekonomi&Peluang Pasar (NE&PP)
3.Kemudahan Teknis Pemeliharaan (KTP)
4.Sarana Pendukung (SP)
Alternatif Jenis Ternak (Hierarki III):
1.Sapi Potong (S.Pot)
2.Kambing PE (Kam.PE)
3.Unggas Petelur (Ugg.T)
4.Unggas Potong (Ugg.P)
Berdasarkan dekomposisi masalah diatas, maka dapat disusun bagan hierarkhi sebagai berikut:
PENILAIAN/ PEMBOBOTAN
Hierarki II (Kriteria)
Hasil pembobotan pada hierrki ke-2 atau hierarki kriteria adalah sebagai berikut:
Pada matriks kriteria terlihat perbandingan berpasangan untuk Daya
dukung lahan atau ketersediaan lahan (DDL) dengan Nilai Ekonomi &
Peluang Pasar (NE&PP) terlihat bahwa NE&PP dianggap lebih
penting (5) dibandingkan dengan DDL. Demikian pula DDL terhadap
Kemudahan Teknis Pemeliharaan (KTP), KTP dianggap lebih penting (5)
dibandingkan dengan DDL. Namun, DDL dianggap lebih penting (5)
dibandingkan dengan Sarana Pendukung (SP). NE&PP saat dibandingkan
dengan KTP menunjukkan tingkat kepentingan yang sama (1), dan mutlak
lebih penting (9) dibandingkan Sarana Pendukung (SP). Demikian pula
degan Kemudaha teknis pemeliharaan (KTP) dianggap mutlak lebih pending
dibandingkan dengan Sarana pendukung (SP).
Interpretasi peniliana pada tarah hierarki II ini sama untuk penilaian pada tarat Hierarki III.
UJI KONSISTENSI
Langkah Pertama: susun matriks kriteria dan matriks alternatif kedalam bentuk matriksreciprocal nya masing-masing, seperti pada contoh berikut:
dan seterusnya untuk alternatif-alternatif lainnya....
Langkah Keempat: tentukan nilai Eigenvektor utama (EV),
dengan merata-ratakan nilai baris pada tiap-tiap elemen. Perhitungan
dilakukan untuk masing-masing elemen pada tiap matriks hasil
normalisasi:
EV diatas adalah EV unutk kriteria (Hierarki II), lakukan juga untuk hierarki III, hingga diperoleh hasil sebagai berikut:
Langkah Kelima: Tentukan nilai Eigen terbesar (Lambda Maksimum)
untuk tiap-tiap matriks. Eigen terbesar diperoleh dengan mengalikan
total matriks sebelum normallisasi dengan nilai eigenvektor utama.
Lengkah Keenam: Tentukan Nilai indeks konsistensi atau Consistency Index (CI) sesuai dengan persamaan yang telah dibahas sebelumnya hingga diperoleh nilai CI sebagai berikut:
Nilai CI yang diperoleh diatas selanjutnya dibandingkan dengan nilai random index (RI)
untuk ordo n = 4 (karena terdapat 4 elemen dalam tiap matriks), maka
nilai RI yang digunakan adalah 0,9. Konsistensi yang dapat diterima
apabila nilai CR<10% (CR<0,1).
Nilai CR yang ditunjukkan pada Tabel di atas menunjukkan bahwa semua
penilaian dilakukan secara konsisten dan hasil pembobotan dapat diterima
berdasarkan konsistensi pengisiannya.
SINTESIS (ITERASI MATRIKS)
Dengan menggunakan matriks yang telah dikonversi kedalam bentuk desimal, selanjutnya akan dilakukan sistesis atau penetuan prioritas.Bobot Prioritas Pada Kriteraia
Pembobotan pada tiap tingkatan hierarki dilakukan melaui jalan iterasi
atau perkalian matriks (baris x kolom). Proses iterasi minimal sebanyak
tiga kali, dengan banyak maksimum yang relatif.
Langkah 1: Berdasarkan nilai-nilai desimal pada matriks 1, lakukan perkalian baris kali kolom, lalu jumlahkan berdasarkan baris.
Langkah 2: Selanjutnya semua hasil penjumlahan pada perkalian
yang telah dilakukan, disusun kedalam matriks yang baru, kemudian
dijumlahkan berdasarkan bari lalu dinormalisasi:
Lakukan prosedur pengalian baris kolom seperti di atas, hingga diperoleh hasil matriks iterasi 2 sebagai berikut:
Jika matriks iterasi 2 telah terbentuk, selanjutnya lakukan lagi proses
iterasi 3. Ingat, bahwa matriks yang digunakan pada iterasi 3 adalah
matriks hasil iterasi 2. Dengan prosedur yang sama pada langkah
sebelumnya, maka akan diperoleh hasil matriks iterasi 3 sebagai berikut:
Nahh, pada hasil iterasi 3 ini, kita selanjutnya kita mencoba untuk
melihat konsistensi nilai-nilai hasil normalisasi (pada kolom Norm.). Lakukan perhitungan selisih antara hasil iterasi 1 dan iterasi 3.
Hasil menunjukkan bahwa masih terdapat selisih pada semua elemen
penyusun matriks, dengan demikian, maka proses iterasi diteruskan ke
iterasi 4. Dengan prosedur yang sama, lakukan iterasi 4 dengan
menggunakan hasil matriks iterasi 3, hingga diperoleh hasil matriks
iterasi 4, sebagai berikut:
Yeppp.. pada iterasi keempat ini, kita telah memperoleh
nilai selisih hasil normallisasi yang bernilai 0, artinya proses iterasi
tidak perlu lagi dilanjutkan. Karena proses iterasi berhenti pada
iterasi 4, maka nilai pembobotan yang digunakan adalah nilai normalisasi
hasil iterasi ke-4, sehingga, sekarang tiap-tiap elemen penyusun
kriteria dapat di susun sebagai berikut:
1.Daya dukung lahan/Kebutuhan Lahan (DDL) = 0,114
2.Nilai Ekonomi&Peluang Pasar (NE&PP) = 0,424
3.Kemudahan Teknis Pemeliharaan (KTP) = 0,424
4.Sarana Pendukung (SP) = 0,037
Kembali ke bagan hierarki, maka akan nampak nilai sebegai berikut:
Berdasarkan hasil sintesis pembobotan diatas, diketahui bahwa aspek
nilai ekonomi & peluang pasar dan aspek kemudahan implementasi
merupakan kriteria yang menjadi prioritas utama untuk menentukan jenis
komoditi ternak yang akan dikembangkan di Kabupaten majene, selanjutnya
adalah aspek daya dukung lahan/ kebutuhan lahan dan pertimbangan
terakhir adalah saran pendukung dalam pemeliharaan ternak.
Setelah melakukan penetapan prioritas pada hierarki II, selanjutnya
penetapan prioritas atau pilihan pada alternatif. Untuk proses iterasi
pada tahapan ini, maka akan dilakukan iterasi alternatif komoditas
ternak pada tiap-tiap kriteria. Prinsipnya adalah bahwa tiap-tiap
alternatif komoditi akan dinilai karakteristik atau tinggkat
kepentingannya berdasarkan kriteria yang telah ditentukan.
Karena panjangan nya proses yang dibutuhkan pada analisis tersebut, maka
untuk hierarki III ini, tidak akan kami muat dan urai secara lebih
mendetail seperti pada hierarki II. Yang jelas prosedur iterasi yang
dilakukan adalah sama, banyaknya iterasi yang dilakukanpun sama, yaitu
empat kali untuk memperoleh nilai selisih total ternormalisasi = 0. Jadi
kami hanya akan memberikan hasil, matriks iterasi ke-4 dan nilai bobot
masing-masing alternatif berasarkan kriteria ukurnya:
Maka bobot untuk masing-masing alternatif pada kriteria daya dukung lahan adalah sebagai berikut:
1. Sapi Potong = 0,050
2. Kambing PE = 0,444
3. Unggas Petelur = 0,203
4. Unggas Pedaging = 0,303
Lakukan langkah yang sama untuk pembobotan alternatif berdasarkan tiga kriteria lainnya.
PENETAPAN ALTERNATIF TERBAIK
Langkah terakhir, adalah menetukan alternatif terbaik dengan
menggabungkan antara hasil pembobotan pada kriteria dan pembobotan
alternatif berdasarkan kriteria. Susunlah matriks hasil pembobotan
alternatif berdasarkan kriteria yang telah dilakukan sebelumnya,
kemudian lakukan perkalian silang dengan masing-masing bobot kriteria
yang diperoleh pada analisis hierarki II:
Kambing PE = 0,404
Unggas Pedaging = 0,235
Unggas Petelur = 0,202
Sapi Potong = 0,159

Tidak ada komentar:
Posting Komentar